Hubungan Dukungan Orangtua Dan Konsep Diri Dengan Minat Membaca


BAB  I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Budaya membaca merupakan prasyarat dan sekaligus merupakan ciri kemajuan suatu bangsa atau masyarakat. Bangsa atau masyarakat yang maju menempatkan kebiasaan membaca sebagai salah satu kebutuhan hidupnya, sehingga terciptalah masyarakat membaca (reading society). Masyarakat yang sudah maju seperti Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea, menjadikan kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Membaca merupakan jendela dunia, maksudnya segala informasi yang ada di penjuru dunia bisa diketahui oleh seseorang melalui membaca. Siswa yang banyak membaca akan lebih banyak memiliki informasi dari pada siswa yang jarang membaca.
Kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan dan informasi baik yang bersifat fiksi maupun ilmiah merupakan hal yang penting bagi setiap individu, disamping kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Kebutuhan pengetahuan dan informasi ini dapat diketahui dari usaha individu yang tidak hanya mengandalkan media elektronik misalnya; TV dan Radio saja, namun juga ada yang berminat untuk membaca majalah, koran atau buku. Hal ini berdasar pada keyakinan bahwa membaca adalah salah satu cara efektif dalam mendapatkan informasi. Membaca merupakan kebutuhan bagi semua orang, apalagi orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, dengan membaca maka akan banyak informasi yang didapatkan (Kurnianingsih, 2003). Aliran informasi yang semakin deras setiap harinya memaksa seseorang untuk terus membaca agar tidak ketinggalan informasi dalam era globalisasi ini. Demikian bahwa keaktifan membaca saat ini selalu dibutuhkan dan menjadi kemampuan dasar yang sangat penting artinya bagi kemajuan masyarakat maupun individu khususnya bagi anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Semakin sering anak-anak melakukan kegiatan membaca, diharapkan akan menambah pengetahuan dan minatnya dalam membaca, selanjutnya pengetahuan itu dapat bermanfaat bagi hidupnya.
Menurut Saidah (2006) membaca dapat menambah dan meluaskan ilmu pengetahuan seseorang, menjadikan mudah berpikir dan bertingkah laku baik yang disebabkan oleh resapan atau input terkini supaya mampu berdaya saing dalam arena global. Lain halnya di negara Indonesia, minat membaca sangatlah rendah dan belum menjadi budaya bangsa (Devi & Shanti, 2004). Budaya baca masyarakat Indonesia sampai saat ini sepertinya masih kurang mengakar (Weni, 2003). Anwar (1997) juga menambahkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kelemahan ganda di era globalisasi yakni rendahnya budaya membaca dan ketidak mampuan menulis ilmiah.
Menurut Santoso (1997), masyarakat Indonesia sebagian besar kurang tahu pentingnya dalam mengembangkan minat bacanya, alasannya tidak menyadari manfaat membaca untuk hari esok, tidak mampu menyediakan bacaan, tidak ada waktu membaca akibat kesibukan mencari nafkah, menonjolnya budaya bertutur dan mendengar cerita yang tumbuh berkembang dimasyarakat, pesatnya media elektronik, pajak buku dan harga kertas sangat tinggi, pencetakan dan penerbitan buku yang minim akibat pembajakan, serta pengembangan dan perpustakaan yang belum memadai.
Menurut Wedyartaka (Kompas, 2006), penyebab lain adalah belum meratanya kemampuan membaca karena mahalnya harga buku dan langkanya toko buku di pedesaan terpencil, sehingga masyarakat mengalami kesulitan dalam mendapat bacaan. Adanya dampak kenaikan BBM yang mengakibatkan pendapatan masyarakat semakin berimbang dengan pengeluaran bahkan, pengeluaran melebihi pendapatannya. Situasi yang semakin sulit juga terjadi di dunia penerbitan, selain meningkatnya biaya produksi dan distribusi buku, minat dan daya beli masyarakat terhadap buku turun cukup signifikan.
Polemik tentang minat baca di Indonesia di mulai lebih dari 25 tahun lalu, persoalan tentang minat baca masyarakat Indonesia masih belum terpecahkan. Demikian pula tulisan-tulisan tentang minat baca pasti masih akan bermunculan (Bunanta, 2004). Tidak heran jika banyak sekali artikel di surat kabar hingga acara televisi yang mengangkat mengenai minat membaca di negara ini, yang pada intinya menyuarakan keprihatinan terhadap minat baca anak-anak dan siswa sekolah yang masih rendah. Padahal masalah minat membaca merupakan persoalan yang sangat penting dalam dunia pendidikan (Sandjaja, 2001).
Selama ini di lingkungan pendidikan, kesadaran pentingnya membaca pada siswa, baru muncul jika ada kebutuhan, yaitu siswa baru membaca kalau ada tugas dari guru, kalau tidak mereka memilih main atau mengobrol (Thoyib, 2006). Pada proses pembelajarannya, pendidikan seharusnya menekankan pada bagaimana menumbuhkan minat membaca sebagai proses dominan dan terus merangsang siswa untuk gemar membaca (Solehun, 2006). Baker (dalam Gie, 1984), mengemukakan bahwa di negara maju seperti A.S, seluruh studi di perguruan tinggi negara tersebut 85% adalah kegiatan membaca.
Minat membaca merupakan kunci keberhasilan belajar anak atau siswa di sekolah. Jika anak memiliki minat membaca yang tinggi akan menjadikannya pintar membaca, maka mencerna pelajaran lainnya menjadi lebih mudah (Puar,1998). Apalagi kurikulum sekarang menuntut para siswa rajin membaca dan diharapkan mampu menyerap informasi yang dibaca (Thoyib, 2006). Salah satu upaya yang harus dipacu sedini mungkin adalah penguasaan berbagai pengetahuan, diawali menumbuhkan minat membaca untuk menjadi kebiasaan membaca dan menulis, kemampuan anak-anak berkembang cepat sehingga memiliki kecerdasan IQ yang tinggi (Mahfudh dalam Krismanto 2009). Kesuksesan pendidikan anak setelah memasuki Sekolah Dasar sangat bergantung pada minatnya untuk membaca sehingga akan memiliki kemampuan dalam membaca, minat baca yang rendah mempengaruhi kemampuan anak didik secara tidak langsung berakibat pada rendahnya daya saing mereka dalam percaturan internasional (Bukhori, 2006).
Beberapa manfaat membaca menurut pendapat Salam (2004), Shore dan Seed (2006), adalah “menambah pengetahuan anak tentang berbagai hal, membuat anak cepat menguasai bahasa dan menambah kosa kata, membentuk pola berpikir yang kritis, membaca memicu perkembangan imajinasi anak, menajamkan daya ingat, terampil mengekpresikan emosi dan perasaan yang dimiliki, dan dapat menyenangkan hati”. Sangatlah jelas bahwa minat membaca berperan sangat penting bagi siswa, dengan demikian minat membaca tidak dapat dianggap sebagai subjek yang terpisah dalam studi. Membaca adalah salah satu alat pendidikan yang digunakan sejak dari SD, bagi orang dewasa sampai orang tua, sepanjang individu melangsungkan pendidikan baik formal maupun informal (Crow & Crow, 1987). Kedudukan membaca penting, sehingga tiap bulan September diperingati sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan. Ide ini sebenarnya telah lama dikemukakan sejak menteri pendidikan dan kebudayaan masih di jabat oleh Prof. Dr. Daud Joesoef yang menganjurkan untuk menggunakan setiap hari Sabtu sebagai hari membaca bagi anak-anak SD dan SLTP (Bunanta, 2004). Melalui peringatan itu diharapkan anak-anak sekolah menjadi gemar membaca dan menumbuhkan minat bacanya.
Menurut Muktiyono (dalam Weni, 1996), upaya menanamkan minat membaca sejak dini pada anak jarang dilakukan orangtua, pada umumnya mereka terlalu sibuk dengan karirnya dan untuk membina minat membaca pada anak, orangtua biasanya hanya mempercayakan pada guru saja. Secara umum minat membaca di lingkungan keluarga Indonesia belum memadai. Kenyataannya sulit menumbuh kembangkan kegemaran membaca dan menulis dikalangan anak-anak, pelajar dan generasi muda, bahkan banyak orangtua mengeluh karena anaknya tidak memiliki hobi membaca dan menulis (Mahfudh, 2006).
Menurut penelitian Bunanta (2004), pemanfaatan waktu luang atau libur kebanyakan digunakan untuk pergi ke mall, daripada ke toko buku atau perpustakaan. Hal ini dikarenakan orangtua belum menjadi idola sebagai pembaca buku. Mahfudh (2006), minat baca anak-anak masih sangat rendah dikarenakan membaca dan menulis di rumah belum dibiasakan oleh orangtua, faktor TV, Video, dan multi media sangat menjanjikan hiburan yang menyenangkan dibanding dengan buku. Hal ini dikarenakan orangtua, guru dan masyarakat kurang memberikan dukungan secara penuh terhadap kegiatan membaca dan menulis.
Data penelitian menyebutkan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini tergolong rendah dalam minat membaca dibanding dengan pendidikan di negara ASEAN yang maju seperti Singapura, Malaysia dan Filipina (Antara, 2006). Menurut data World Education Report 2000 (UNESCO) angka buta huruf di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan negara-negara miskin yang ada di dunia seperti Vietnam dan Mongolia.
Menurut Firman (2000), seseorang yang mempunyai minat membaca rendah sudah tentu pengetahuannya terbatas. Sama halnya dengan para pelajar, minat membaca perlu dikembangkan, sebab jika seorang pelajar hanya mengandalkan ilmu pengetahuannya kepada guru saja dan tidak ada usaha untuk menambah dan mencari ilmu pengetahuan dari berbagai sumber lainnya, maka tidaklah mustahil pengetahuan si pelajar akan terbatas pula. Hal ini sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Wigfield & Guthrie ( dalam Sandjaja, 2001), bahwa anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang memiliki minat membaca tinggi akan berprestasi di sekolah, sebaliknya anak-anak SD yang memiliki minat membaca rendah akan rendah pula prestasi belajarnya.   Di lingkup yang lebih luas, menurunnya minat membaca pada masyarakat suatu bangsa akan membuat kondisi bangsa tersebut menjadi tertinggal dengan bangsa lain. Hal lain yang membuat keadaan semakin memprihatinkan karena kurang berbekal kemelekwacanaan atau kemelekbudayaan ditambah dengan banyak sajian media elektronik yang kurang mendidik tidak jarang masyarakat bangsa tersebut yang terjerumus ke perilaku kekerasan, amoral, atau bentuk-bentuk primitif lainnya (Solehun, 2006). Untuk itu perlu peran dan dukungan orang dewasa terutama para orangtua di Indonesia dalam menanamkan minat baca kepada anak-anak.
Menurut Bunanta (2004), minat membaca harus ditumbuhkan sejak balita, sedangkan ketrampilan membaca bisa ditumbuhkan setelah usia tujuh tahun, dan sebelum diajari ketrampilan membaca minat anak sudah harus tumbuh terlebih dahulu. Devi & Shanti (2004), menambahkan bahwa pada usia 6-12 tahun yaitu saat anak memasuki masa kanak-kanak adalah masa yang tepat untuk mulai mengembangkan minat membaca pada anak. Pada usia ini, kemampuan anak memahami bahasa dalam buku bacaan berkembang dengan pesat. Menurut Kartono (1995), bahwa usia (6-13 tahun) ini merupakan usia SD, mulai memandang semua peristiwa dengan objektif, unsur intelektual (kognitif) dan akal budi (moral) terjalin semakin menonjol dan emosionalitas menjadi berkurang. Semua kejadian ingin diselidiki dengan tekun dan penuh minat.
Selain dukungan orangtua, konsep diri merupakan salah satu indikator munculnya minat membaca pada siswa. Konsep diri merupakan keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya (Rini, 2002). Konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir dan mempunyai pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang (Gunawan, 2005). Konsep diri akan memberikan kerangka acuan yang mempengaruhi manajemen diri terhadap situasi dan terhadap orang lain. Konsep diri ada yang sifatnya positif dan negatif. Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang dirinya lemah, tidak dapat berbuat, tidak kompeten, gagal, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu akan cenderung bersikap pesimistis terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Sebaliknya individu dengan konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal positif yang dapat dilakukannya demi keberhasilan dan prestasi (Wahyuni, 2007). Sehingga dalam kepentingan prestasi, kemajuan dan perkembangan, konsep diri mempunyai peranan yang signifikan. Signifikannya tindakan manusia erat kaitannya bagaimana manusia mendefenisikan dirinya. Beberapa ahli jiwa mengatakan, “Dari sistem pendidikan yang terbukti berhasil dari seluruh dunia, konsep diri lebih penting dari materi pelajaran” (Ari, 2007).
Penelitian terdahulu oleh Pratiwi (2008) tentang peran orangtua terhadap konsep diri dan kemampuan komunikasi interpersonal pada anak tuna daksa, menunjukkan bahwa dukungan orangtua mempengaruhi pembentukan konsep diri anak tuna daksa dan nantinya akan mempengaruhi dalam komunikasi interpersonalnya.
Dari survei pendahuluan yang dilakukan peneliti diketahui bahwa minat membaca siswa SMP Negeri 9 Medan masih sangat rendah. Dari data empat tahun terakhir dapat dikategorikan minat membaca yang sangat rendah dimana jumlah siswa keseluruhan dengan rata-rata 675 siswa/tahun. Hal ini terlihat dari siswa yang berkunjung keperpustakaan pada tahun pelajaran 2009/2010 hanya 667 siswa, pada tahun pelajaran 2010/2011 hanya 671 siswa , pada tahun 2011/2012 hanya 678 siswa dan pada tahun pelajaran 2012/2013 hanya 685 siswa dan bila dirata-ratakan setiap bulannya yang berkunjung keperpustakaan hanya 56 siswa sehingga persentase rata-rata diperoleh hanya 8,29% . Kemudian dilihat dari segi buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan sudah memperlihatkan bahwa buku-buku tersebut sudah banyak yang tidak mendukung untuk menumbuhkan minat baca siswa. Belum lagi penataan ruang perpustakaan yang menurut peneliti hanya sebagai syarat bagi sekolah telah adanya ruang perpustakaan. Lebih lanjut peneliti melakukan wawancara pada pegawai perpustakaan diketahui bahwa fasilitas perpustakaan secara keseluruhan baik dari segi penambahan bahan bacaan ataupun dari segi pengembangan ruang perpustakaan. Disisi lain bahwa guru juga mempengaruhi kurangnya minat baca pada siswa. Hal ini diketahui peneliti karena para guru tidak melibatkan perpustakaan dalam memberikan tugas-tugas pada siswa. Penyebabnya mungkin karena bahan – bahan bacaan yang kurang memadai sehingga tidak memungkinkan guru dan siswa melibatkan bagian perpustakaan. Bila dibandingkan dengan para siswa yang kurang mampu untuk membeli buku, maka hal ini menjadi penghambat bagi siswa untuk menumbuhkan minat baca. Hal lainnya yang diketahui melalui wawancara yang dilakukan pada siswa, diketahui ada orangtua tidak mendukung anaknya yang mempunyai minat baca mengenai teknologi komputer dimana anak tersebut mempunyai cita-cita ingin menjadi ahli komputer.
1.2. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut :

  1. Pendidikan di Indonesia saat ini tergolong rendah dalam minat membaca.
  2. Siswa baru membaca kalau ada tugas dari guru.
  3. Kurangnya dukungan orangtua pada siswa untuk menumbuhkan minat membaca.
  4. Kurangnya pemahaman konsep diri pada siswa
  5. Kurangnya dukungan pihak sekolah untuk menumbuhkan minat baca pada siswa baik dari segi ruang perpustakaan ataupun dari segi bahan bacaan.
  6. Kurangnya motivasi guru untuk menumbuhkan minat baca siswa dengan mengajak siswa agar rajin membaca buku diperpustakaan.

1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka akan dilakukan penelitian terhadap siswa SMP Negeri 9 Medan dengan rumusan masalah sebagai berikut :

  1.  Apakah ada hubungan dukungan orangtua dengan minat membaca siswa di SMP Negeri 9 Medan?
  2.   Apakah ada hubungan konsep diri dengan minat membaca siswa di SMP Negeri 9 Medan?
  3.   Apakah ada hubungan dukungan orangtua dan konsep diri dengan minat membaca siswa di SMP Negeri 9 Medan?

1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui hubungan dukungan orangtua dengan minat baca siswa di SMP Negeri 9 Medan.
  2. Untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan minat baca siswa di SMP Negeri 9 Medan.
  3. Untuk mengetahui hubungan dukungan orangtua dan konsep diri dengan minat baca siswa di SMP Negeri 9 Medan.

1.5. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya hasil penelitian, khususnya psikologi pendidikan.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan sebagai referensi bagi orangtua, guru, dan para pendidik untuk meningkatkan minat membaca siswa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anwar, S, 1997. Reliabilitas Dan Validitas, Interpretasi Dan Komputasi. Yogyakarta: Liberty Ari, 2007.
  2. Bukhori. A., 2006. Menciptakan Generasi Literat. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/2005/0305/26/0802.htm (17 Desember 2013).
  3. Bunanta. M. 2004. Buku Mendongeng dan Minat Membaca. Jakarta: Pustaka Tangga.
  4. Crow. L. D. & Crow. A, 1987. Psikologi Pendidikan. Jilid I. Alih Bahasa: Z. Kasijan. Yogyakarta: Bina Ilmu.
  5. Devi & Shanti, 2004. Peran Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga di Wilayah Pedesaan Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak. Jurnal Psikologi.
  6. Firman, 2000. Hubungan Kegemaran Membaca Dengan Menulis. http://www.homeline.edu/apakabar/basisdata
  7. Gunawan, 2005. Konsep Diri Dapat Berpengaruh Terhadap Diri. http://www.konsepdiri.com/webmaster-gunawan/html.
  8. Gie. L, 1984. Kemajuan Studi. Yogyakarta. Pusat Kemajuan Studi.
  9. Kartono. K, 1985. Perkembangan Dalam Memandu Anak. Jakarta : PT.Rajawali.
  10. Krismanto, Wiwik Danu. 2009. Minat Membaca Pada Anak Ditinjau Dari Dukungan Orangtua. Semarang: Skripsi Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.
  11. Rini,J. F. 2002. Konsep Diri Terhadap Prestasi.Jurnal Psikologi.

 

Tentang pandahar

Hobi membuat tulisan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s